1

[FF => SongFic “Rahasia Hati”] SunHae

Waktu terus berlalu

Tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan

Masih teringat jelas

Senyum terakhir yang kau beri untukku

~

                “haaah” Donghae menarik nafas lelah, latihan untuk SuShow benar benar menyita waktu dan tenaga. Tapi tak terlalu difikirkannnya, ini adalah untuk ELF, bagaimanapun dia sangat mencintai fansnya.

“ini hae” Eunhyuk, sang monyet tampan –begitu menurut ELF- melemparkan sebuah minuman isotonik untuk Donghae, setelahnya ia mengambil tempat disamping sahabatnya itu.

“emmm, Hae, kau tau kan tentang comeback wondergirl?” dengan sedikit ragu Eunhyuk bicara. Ini topik yang sedikit sensitive untuk Donghae.

“oh tentu saja, lagu mereka bagus” hanya itu respon dari Donghae, lalu ia melangkah meninggalkan Eunhyuk.

“Aisssh, anak itu, aku kan ingin bicara” Hyukjae mengerang kesal karena maksudnya tak tersampaikan.

-Donghae’s POV-

Akhirnya, setelah sekian lama sibuk di New York dia come back di korea. Aku turut senang mendengarnya, walau tak sepenuhnya. Dulu saat dia comeback, sehari sebelumnya akulah yang menjadi orang paling sibuk, setidaknya diantara member super junior. Sibuk menelfon, mengirim pesan ataupun email kepadanya. Isinya selalulah sama ‘jangan terlalu lelah, besok hari penting. Semangat sayang :*’. Dan akhirnya dia protes, menceramahiku agar tak terlalu khawatir. Agar aku lebih memperhatikan keadaanku, bukan malah sibuk mengiriminya pesan. Terkadang dia malah membuat video call hanya untuk terseyum dan menunjukkan dia baik baik saja. Tapi sayang, itu hanya terjadi dulu. Dulu sebelum dengan egoisnya aku malah mengakhiri hubunganku dengannya. Dengan seorang Min SunYe. Ah, aku rindu senyum itu. Senyum yang hanya untukkku.

-Dongha’s POV end-

~

Tak pernah kumencoba

Dan tak inginku mengisi hatiku dengan cinta yang lain

Kan kubiarkan ruang hampa didalam hidupku

~

                “hae, ikut aku” Yesung  bangkit dari duduknya dan menarik lengan donghae agar pemuda itu segera berdiri.

“kemana hyung?” sahut donghae sambil mempertahankan posisi duduknya, tak ingin beranjak sepertinya.

“Inkigayo, mendukung dongsaeng kita. Ayolah, kita tak ada jadwal” Yesung tetap berusaha menarik lengan donghae, dan bersyukurlah dengan otot donghae yang menjadikan bobotnya sedikit lebih berat.  Sehingga ia tetap bisa mempertahankan posisinya.

“tidak. Skandalku dengan yooa akan menjadi jadi. Hyung pergi saja sendiri” donghae berusaha melepaskan tangan Yesung dari lengannya dan itu berhasil.

“hanya skandal kan? Lagipula itu akan meredam skandalmu dengan sunye..”  belum selesai Yesung dengan kalimatnya tapi donghae sudah menyela.

“meredamnya dengan skandal bersama kekasih hyungku sendiri? Maaf terima kasih hyung”

“hanya skandal. Tidak lebih. Buka hatimu Lee Donghae, sampai kapan kau memikirkannya? Memikirkan kepergiannya karena kesalahanmu?”

“sudahlah hyung, jangan bahas itu lagi. Aku ingin tidur” dan akhirnya donghae melangkah dengan malas kekamarnya. ‘maaf, hatiku tertutup dan hanya dia yang punya kuncinya’ batin donghae.

~

Bila aku harus mencintai

Dan berbagi hati

Itu hanya denganmu

Namun bila, kuharus tanpamu

Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta

~

                Leader Wonder Girl ‘Sunye’ mengakui telah mempunyai kekasih yang non-selebriti

                Kepala donghae berdenyut nyeri, jadi ini hal yang membuat dia berfirasat buruk sedari tadi. Pengakuan mantan kekasihnya itu benar benar menusuk.

‘Kau sudah menemukan pengganti’ donghae membatin. Sakit memang, tapi ia bisa apa? Mereka berpisahpun adalah ulah dia.

“Inilah alasan kenapa kau harus membuka hati hae” Leeteuk datang dari belakang. Ia baru masuk kekamar itu dan menemukan donghae sibuk dengan laptopnya. Dan setelah tau apa yang menarik perhatian dongsaengnya itu barulah ia mau buka suara.

“kadang cinta memang bukan hanya sekali kita rasakan. Perlu berulang kali merasakan cinta. Tapi cinta sejatimu akan kau temukan di akhir. Mungkin kau harus mencari cinta sejati itu hae” leeteuk berkata bijak dan mengelus kepala dongsaeng tersayangnya itu.

“entahlah hyung, tapi aku rasa dia yang pertama dan terakhir. Biarlah seperti ini. Aku terlalu yakin hyung kalau dia yang terakhir. Tak akan mencari yang lain selain dia, hanya dia. Biaralah dulu kosong. Tak akan kuisi kalau bukan dia hyung” donghae berkata lirih tanpa menatap leeteuk. Yah, entah kenapa dia terlalu yakin kalau hanya sunye yang berhak mengisi hatinya. Akan dibiarkan kosong kalau bukan gadis itu.

“Hae, kami mengerti dirimu. Sangat mengerti, tapi jangan begini” ada sepercik nada jengah pada kalimat yang dilontarkan leeteuk itu. Mungkin dia jengah melihat donsaengnya seperti ini.

“itulah yang selalu kepertanyakan hyung. Bukan kenapa tak ada yang mengerti aku, tapi kenapa aku tak mau dan tak bisa mengerti kalian? Aku juga tak tau, tapi hatiku hanya ingin kosong hyung, hanya itu.”

“kuharap orang yang bisa mengisi hatimu bisa kembali kepadamu” dengan satu tepukan dipundak dan sedikit mengacak rambut donghae, leeteuk segera beranjak keluar. “ah, tapi jangan perlihatkan kekosongan itu pada ELF” pesan terakhir sebelum ia benar benar hilang.

~

Hanya dirimu yang pernah

Tenangkanku dalam pelukmu

Saat ku menangis

~

“Kumohon, tetaplah disini. Jangan pergi, aku mohon!” seorang pemuda tampak sedang memeluk seorang gadis di dalam dekapannya. Si gadis berperawakan manis itu hanya diam, tak bergerak, walaupun sesekali dia meringis karena rengkuhan si pemuda yang terlalu membelenggunya.

                “aku tak pergi kemana-mana, aku masih disini, tetap disini bersamamu.” Berusaha menjelaskan sang gadis manis berbicara kepada orang yang sedari tadi merengkuhnya. “Kau matahari ku Sun, kumohon jangan pernah pergi…” seperti tak mendengarkan, pemuda yang memanggil gadis manis dengan sebutan Sun itu terus menggumam. “Lee Donghae, ada apa dengan mu?”

                Lee Donghae,  sedang menangis sambil memeluk kekasihnya, Sun, mataharinya. Kekasih?  Matahari? Yup.  Bagi Lee Donghae kekasihnya adalah mataharinya, Min Sunye. 

Kilasan bayangan tentang kejadian itu entah kenapa berputar di otak donghae. Saat ia menangis dan memeluk kekasihnya. ah bukan, sekarang bukan lagi kekasih, tapi mantan kekasih. Dan itu memicu air mata donghae menetes. Dia cengeng? Biarlah, tapi memori itu benar benar menjadi favoritnya. Saat dia menangis dan ada yang memeluknya, menenangkannya. Jauh berbeda dengan sekarang. Sekarang ia hanya menangis sendiri, tanpa ada pelukan dan kata kata menenangkan seorang Min SunYe.

13

FF [Jiyeon Yoona => Sister] Ottakhajo Onni???

-Jiyeon’s POV-

Melangkah dengan teramat pelan. Ah, bukan melangkah tapi menyeret  kaki menuju kamar kakak. Bukannya takut seretan langkah ini akan mengganggunya, lebih kepada tak ingin ada benda yang jatuh karena seretanku. Perlahan namun pasti aku sampai disana, kamar kakakku dan juga suaminya. Kamarnya tak dikunci. Aku tahu itu. Inilah yang membuatku yakin dia masih menyayangiku sebagai adiknya. Walaupun Ia tak sebaik dahulu terhadapku tapi dia pasti tau aku tak akan bisa tidur sebelum mendapat pelukannya.

Kudekati ranjang king size itu. Merebahkan diri disamping kakak. Merapatkan tubuh agar hangatnya bisa menenangkanku. Tubuh kakak benar-benar hangat. Kami tak sedarah, namun aliran darah yang ada ditubuhnya memberikanku lebih dari sekedar kehangatan.  Detak jantungnya bagaikan lagu pengantar tidur untukku. Sungguh kenyataan yang teramat indah aku bisa merasakan hidup bersamanya. Sayang, aku tak mungkin untuk tidur disini. Tak mungkin melelapkan diri dipelukan kakak.

Tak tahu sudah berapa lama begini, namun saat merasa sudah cukup, dengan berat hati aku bangkit. Iseng, aku pergi ke sisi lain tempat tidur. Hanya memastikan apakah suami kakak sudah pulang? Mengingat dia adalah orang yang cukup sibuk. Betapa beruntungnya aku kalau dia belum pulang. Karena aku bisa tidur disini dan memeluk kakak lebih lama lagi.

Mencoba meraba dan kutemukan sosok itu. Ternyata dia adalah suami yang baik. Tak meninggalkan istrinya walaupun dengan kesibukan yang gila. Tak salah kakak memilihnya.

Dan sekarang aku benar benar harus keluar. Bagaimanapun ini bukanlah kamarku dan kakak lagi. Tak mungkin aku berlama lama disini walau aku ingin. Lagi, aku menyeret langkah untuk keluar dari kamar ini.

***

-Yoona’s POV-

Ah, lagi lagi malam ini seperti ada seseorang yang memelukku. Sebulan terakhir, sejak aku menikah dan setiap malam akan ada orang yang sepertinya memelukku. Suamiku? Aku sudah berulang kali menanyakan kepadanya dan jawabannya selalu sama. Tidak! Ia tak pernah melakukannya. Lagipula tak mungkin lengan suamiku begitu kecil. Walaupun terlelap aku tetap bisa merasakannya. Dan anehnya itu hanya terjadi disaat aku tak mengunci pintu kamar. Satu lagi, aku begitu yakin kalau dia adalah perempuan.

Tak seperti sebelumnya yang hanya diam tak menghiraukan. Kali ini aku membuka mata, tetapi tak menemukan siapapun. Melirik kearah lain dan yang kudapati adalah hal yang tidak menyenangkan. Adik-angkat-ku tengah mengusap wajah suamiku. Dengan senyum tenang diwajahnya. Inikah balasanmu kepadaku Park Jiyeon?

-Author’s POV-

Im Yoona dan Park Jiyeon. Jiyeon yang dahulunya hanya seorang adik kelas Yoona, namun akhirnya diangkat menjadi adik oleh Yoona karena Yoona terlalu menyayanginya. Didukung oleh keadaan Jiyeon yang memang hanya sendiri di Seoul. Orang tuanya sudah lama tiada. Dan saat kelas 3 SMP dia menemukan keluarga baru yaitu Yoona.

Mereka sangat dekat. Sangat dan terlalu dekat. Kau tak akan menyangka jika mereka hanyalah saudara angkat. Jiyeon begitu menyayangi  dan menghormati Yoona. Tak ubahnya dengan Yoona. Tak pernah sekalipun kata kata kasar dilontarkan kepada adik tercinta. Menyakitinya sungguh tak pernah terfikirkan.

Walau kedekatan itu sekarang harus sedikit renggang. Dikarenakan seorang anggota baru dikehidupan mereka. Yesung, suami Yoona. Sekarang pehatian Yoona sudah terbagi. Tak lagi untuk Jiyeon seorang. Mereka yang biasanya sampai saat akan tidurpun masih berbincang dan tidur dengan berpelukan, sekarang sudah tak mungkin. Bagaimanapun Yoona sudah menjadi istri orang. Dan bukan hanya itu, ada satu hal lagi yang membuat hubungan itu benar-benar renggang. Komunikasi.

***

-Jiyeon’s POV-

Tok tok

Jendela kamarku diketuk oleh seseorang. Aku yakin itu pasti dia. Dia tak lupa dengan janjinya. Dan jika aku boleh beranggapan, dia adalah orang yang sangat baik. Walau belum lama mengenalnya.

Kubuka jendela kamar agar Ia bisa masuk. Kenapa dia tak lewat pintu depan dan harus melewati jendela kamar layaknya maling? Permintaanku yang dengan senang hati dikabulkannya. Terlalu malas untukku berjalan kepintu depan.

“Menungguku?” sudah kubilang. Itu pasti dia, suaranya sangat khas untuk pendengaranku. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.

“Minggir kekanan sedikit, aku mau lompat” titahnya dan segera kulaksanakan.

Inilah hal yang selalu kulakukan kalau kakak tak ada dirumah. Sejak aku tak lagi kuliah dan kakak masih tetap pada pekerjaannya, yang kulakukan hanya mendekam rumah. Diam dikamar tak pergi kemana mana. Sedikit berbeda kalau dia datang kesini. Lebih ramai dan lebih menyenangkan. Dia selalu bercerita tentang apa yang dilakukannya di hari sebelumnya. Tentang kegiatan kampusnya, tentang teman-temannya, bahkan tentang keluarganya.

“Kemarin ada kejadian menyeramkan dikampus” Seungho-dia yang datang kekamarku-  sepertinya akan memulai ceritanya. Sedangkan aku hanya membalas dengan ekspresi wajah yang –menurutku- tampak penasaran dan tertarik dengan kelanjutan ceritanya. Hanya dengan itu tanpa disuruh pun dia sudah melanjutkan apa yang akan dibicarakannya. Bicaralah, karena apapun yang kau katakan akan ku dengarkan tanpa bantahan.

***

-Yoona’s POV-

Aku mencurigai adikku menyukai suamiku. Bukan tak beralasan, tapi semenjak aku menikah hubungan ku dan dia jauh dari kedaan dahulu. Entah kenapa aku selalu merasa dia mencari perhatian suamiku.

Pagi ini saat aku duduk memperhatikan disini, sementara suamiku menjalankan kegiatan rutinnya. Membaca koran di ruang tamu. Dan apa yang kulihat? Lagi, Jiyeon mencoba untuk menggapai wajah suamiku.

Sangat beralasankan untukku mencurigainya? Tapi sungguh, aku belum mau menanyakan langsung kepadanya. Aku tak mau menyakiti hatinya. Disisi lain aku sangat mencintai  Yesung, benar benar mencintainya. Tapi  aku juga  tak ingin membenci Jiyeon. Bahkan terfikirkanpun tidak. Bicara, aku harus bicara dengannya.

Saat ia berbalik kearah kamarnya, aku segera mengikuti dibelakang.

“Jiyeon-ah, boleh onni bertanya padamu?” dia segera berbalik,  sejurus kemudian dia menganggukkan kepala.

“onni tidak punya waktu banyak, tapi onni benar benar penasaran tentang hal ini. Apa kau sedang menyukai seseorang?” aku langsung menuju topik tanpa bertele tele. Dan dengan senyum yang sangat cerah disertai anggukan semangatnya aku sudah sangat tahu. Tapi, benarkah kau menyukai Yesung? Suamiku? Suami kakakmu?

-Jiyeon’s POV-

Seperti yang kuduga, kakak sangat mengerti tentang aku. Bahkan ia tahu aku sedang menyukai seseorang. Ya,ku rasa aku menyukai Seungho.

Sayang, Seungho tak bisa datang hari ini. Tapi dia berjanji akan datang lusa. Tak ada kegiatan yang bisa kulakukan lagi, aku menerobos kamar kakak. Mencari lemari pakaiannya. Aroma tubuh kakak begitu nyaman untuk selalu kuhirup. Aku mencari pakaiannya dan terus menciumnya. Andai kakak disini tak perlu aku melakukan ini. Aku bisa langsung memeluknya.

***

-Yoona’s POV-

Pukul 01.00 tengah malam. Aku sengaja tidak tidur untuk memastikan kecurigaan ku selama ini tidak benar. Menunggu apakah Jiyeon akan datang lagi kesini sekedar untuk menyentuh wajah suamiku. Aku sangat berharap itu tak akan terjadi.

Dan itu hanya tinggal harapan saat aku melihat siluet orang lain didepan pintu kamarku. Tak lama sesudahnya knop pintu bergerak. Jiyeon, kau benar benar mengecewakanku.

-Jiyeon’s POV-

Tak bisa terpejam. Aku tak bisa terlelap. Sehari tak ada yang menceritakan apapun untukku. Sehari tanpa memeluk kakak. Aku benar benar tak bisa tidur. Aku harus kekamar kakak.

Entah sudah jam berapa sekarang tak kufikirkan. Yang kutahu hanya penerang bumi masihlah bulan, belum digantikan oleh matahari. Menyeret langkah keluar dan menuju tempat yang akan bisa membuatku tertidur. Namun, saat aku sampai didepan pintu kamar yang sangat kuhafal letaknya itu aku terdiam sebentar. Beberapa detik barulah aku meraih knop pintu, mencoba membuka tanpa menimbulkan suara. Ah, benar benar sayang. Pintu ini dikunci, mungkin Yesung oppa yang menguncinya. Pada akhirnya aku membalikkankan langkah dengan terpaksa.

***

-Author’s POV-

Hening. Itulah yang bisa menggambarkan kedaan meja makan itu saat ini. Tak ada yang berusaha untuk memecahnya. Sampai seseorang menjadi jenuh. Dia memecah…

“Jiyeon-ah, kau menggunakan lipstick?” Yesung sebagai satu satunya lelaki di meja makan itu menanyakan hal yang sama sekali tak penting sekedar untuk memecah keheningan yang membelenggu tadi. Gadis yang ditanyai tadi menggukkan kepala cepat dan berulang. Tanda yang dikatakan Yesung tadi adalah hal yang tepat.

“mencoba menarik perhatian seseorang Jiyoen-ah?” Yoona bertanya dengan nada manis yang terkesan sedikit sinis. Namun dengan polosnya gadis itu mengagguk dengan semangat lagi. Kali ini juga ditambah dengan cengirannya.

“hei, menarik perhatian siapa?” Yesung berbisik ketelinga istrinya. Bukannya menjawab sang istri malah menyampaikan pertanyaan lain kepada sang adik.

“kau benar benar menyukainya?” tak dengan nada manis, tapi dengan nada mengintimidasi. Dasarlah seorang Park Jiyeon gadis yang teramat polos dia mengangguk lagi dengan semangat. Emosi yang sedari tadi ditahan Yoona akhirnya meluap. Dengan kasar direnggutnya lengan Jiyeon dan segera menariknya. Tak peduli dengan Yesung yang terkejut dibelakangnya.

-Jiyeon’s POV-

Demi tuhan, apa yang terjadi? Kenapa kakak menarikku dengan kasar seperti ini? Apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan jawabanku tadi?

‘Kak, sakit kak. Kumohon lepaskan.  Apa salahku?’ Ingin rasanya aku menyampaikan itu. Tapi aku bisa apa? Apapun yang kukatakan tak mungkin bisa dimengerti kakak. Tuhan kumohon, tanyakan kepada kakak, apa salahku? Berikan aku suara saat ini tuhan….

-Author’s POV-

Komunikasi. Yup, hal inilah yang menjadi penyebab utama renggang nya hubungan dua saudara itu. Jiyeon, dia buta dan bisu. Suatu kejadian merenggut penglihatan dan pita suaranya. Sejak saat itu tak ada lagi komunikasi yang begiru berarti. Yoona mencoba menyibukkan diri agar Ia tak perlu bertemu Jiyeon. Karena hal itu akan menjadikan rasa bersalah dalam dirinya semakin besar. Ia secara tidak langsung ambil bagian dalam peristiwa naas yang menyebabkan Jiyeon kehilangan dua kemampuan vital itu.

Mencari kesibukan diluar dan akhirnya bertemu dengan suaminya sekarang. Yoona sangat mencintai Yesung. Bahkan Yoona, yang awalnya adalah seorang model mau melepaskan pekerjaan itu agar Ia bisa bekerja di perusahaan Yesung. Wajarkan dia kalap saat mengetahui orang lain juga menginginkan suaminya?

Sementara Jiyeon sejak kehilangan penglihatan dan suaranya lebih senang berdiam dikamar. Dan pertemuan tak sengaja dengan Seungho, -yang pada waktu itu hanya sekedar lewat. Dengan beraninya pemuda itu mengetok jendela kamar Jiyeon dan segera masuk- membuatnya mempunyai teman.  Hampir tiap hari, saat kakaknya tak ada Seungho datang.

Sebuah kesalahpahaman. Dia mengira sang kakak mengetahui tentang Seungho, makanya dengan semangat dia selalu mengangguk saat ditanyai hal yang sama. Namun yang ditangkap sang kakak berbeda. Membuatnya kehilangan kesadaran. Sampai dengan teganya Ia mengguyur tubuh adiknya. Menghempaskan tubuh itu ke dinding. Dan berakhir dengan membenamkan sang adik ke bath up.

Sementara itu dikamar Jiyeon…

Tok tok

“Jiyeon-ah” Seungho melihat kedalam melalui kaca. Tak ada siapa siapa dikamar itu. Yang ditemukannya hanya kasur acak acakan dengan berbagai alat make up diatasnya. Seungho mendorong sedikit jendela itu dan ternyata tidak terkunci. Tanpa izin dari siapapun Ia langsung melompat masuk.

“Yoona, kenapa kau? Mau kau apakan Jiyeon?” teriakan Yesung terdengar sampai ke telinga Seungho. Mendengar nama Jiyeon disebut sebut ia langsung berlari menuju asal suara. Ia berhenti tepat didepan Yesung yang sedang berusaha mendobrak pintu kamar mandi. Dan saat melihat itu perasaan Seungho benar benar kacau.

“Jiyeon? Dia kenapa?” Seungho menepuk pundak Yesung tanpa tahu pada siapa Ia bertanya.

“Kau siapa? Ah, tak penting. Tolong aku mendobrak pintu ini. Aku takut akan Jiyeon” Yesung berkata dengan nada panik luar biasa. Ia mengenal bagaimana istrinya, tapi Ia tak pernah tau tentang ini.

“Hana, dul, set” dan di hitungan ketiga pada percobaan kesekian kali pintu itu menjeblak terbuka.

“Astaga! Jiyeon!” tanpa pikir panjang Seungho langsung menghampiri Jiyeon yang terlihat hampir pingsan di bath up. Dia benar benar benar diambang kesadaran. Dengan seluruh tenaga yang Ia punya Seungho membawa Jiyeon keluar bermaksud membawanya ke Rumah Sakit secepat yang Ia bisa.

“Yoona! Apa yang kau lakukan?” sementara itu Yesung menghampiri Yoona yang terduduk di lantai. Ia hanya menangis dan mengacak ngacak rambutnya.

“dia menginginkanmu oppa, aku tak mau” meracau tak jelas dan akhirnya dia mendapat pelukan hangat suaminya. “tenangkan dulu dirimu”

***

Disinilah Yoona dan Yesung sekarang, Incheon International Airport. Yoona menangis meraung raung. Tak peduli dengan tatapan orang disekitarnya.

Dua jam setelah kejadian itu sebuah surat sampai kerumah mereka. Surat dari adiknya, adiknya yang hampir terbunuh oleh tangannya sendiri.

Onni, aku sekarang mempunai teman berbicara

Yah, tidak bisa dibilang teman bicara, karena hanya dia yang berkata sementara aku diam mendengarkan.

Tapi dia teman yang sangat baik

Dan serunya dia mengerti apa yang akan kukatakan hanya dengan melihat gerakanku.

Padahal itu hanya gerakan yang kubuat. Bukan bahasa isyarat formal.

Dia juga menawarkan aku untuk menjalani pengobatan mata di Amerika.

Aku sudah menyetujuinya onni, maaf karena tidak meminta izinmu.

Dua hari lagi dia akan datang dan menjemputku.

Onni doakan aku bisa melihat lagi dan melihat senyum onni lagi ^^

P.S : aku Yoo Seungho

Aku yang menulis surat ini berdasarkan apa yang disampaikan Jiyeon kepadaku.

Satu hal. Tak taukah kau Kim Yoona?

Orang yang hampir kau bunuh ini ingin kembali bisa melihat hanya karenamu.

Dia ingin melihat senyummu yang sudah lama tak dirasakannnya, pelukan sebelum tidurmu yang sudah tak ada lagi untuknya. Bahkan dia sampai menyusup kekamarmu hanya untuk memelukmu.

Maaf aku membawanya tanpa perizinan mu. Tapi penerbangan tak bisa ditunda.

 

Hanya itu. Tak ada petunjuk lain yang diberikan. Petunjuk untuk mengetahui dimana adiknya berada. Tak ada, sekarang dia benar benar kehilangan adiknya. Walau tak selamanya, tapi cukup lama. Nikmatilah waktu itu Yoona. Belajarlah untuk berkomunikasi dengan orang lain sebelum kau  menuduhnya. Agar tak ada lagi orang yang akan meninggalkanmu.

1

[FF] {SunHae} At Least I Still Have You

-SunHae-

I’m afraid there won’t be enough time, I want to hold you
Until I feel your wrinkles
Have signs of aging

Until confirming that you are for real
Until I lose power

                “Kumohon, tetaplah disini. Jangan pergi, aku mohon!” seorang pemuda tampak sedang memeluk seorang gadis di dalam dekapannya. Si gadis berperawakan manis itu hanya diam, tak bergerak, walaupun sesekali dia meringis karena rengkuhan si pemuda yang terlalu membelenggunya.

“aku tak pergi kemana-mana, aku masih disini, tetap disini bersamamu.” Berusaha menjelaskan sang gadis manis berbicara kepada orang yang sedari tadi merengkuhnya. “Kau matahari ku Sun, kumohon jangan pernah pergi…” seperti tak mendengarkan, pemuda yang memanggil gadis manis dengan sebutan Sun itu terus menggumam. “Lee Donghae, ada apa dengan mu?”

Lee Donghae, Donghae, Fishy, Pangeran Ikan atau apapun orang menyebutnya. Seorang super star asia yang memang sudah terkenal sebagai Prince Of Tears sedang menangis sambil memeluk kekasihnya, Sun, mataharinya. Kekasih?  Matahari? Yup.  Bagi Lee Donghae kekasihnya adalah mataharinya, Min Sunye.  Gadis manis yang memang sejak lama memiliki skandal dengannya. Tapi siapa yang menyangka kalau mereka benar benar sepasang kekasih?

“aku takut, benar benar  takut  kau akan pergi. Tolonglah berjanji kau akan bersamaku sampai di kulit kita terukir kerutan kerutan usia. Berjanjilah!”

“aku berjanji atas namamu Lee Donghae. Aku berjanji! Aku berjanji akan bersamamu sampai aku tidak punya kekuatan lagi untuk menyebut janji ini!” kali ini Sunye yang lebih merengkuh tubuh Donghae, memperdekat jarak mereka, menyampaikan isi hati masing-masing.

*————-*

For you I am willing
I have to watch you even if I can’t move
Until I feel that your hairline
Have hints of snow white color

Until my eyesight becomes blurry
Until I cannot breath
Let us never part

            I want nobody nobody but you…

            I want nobody nobody but you…

            “Donghae, ini sudah tengah malam. Kau itu belum sembuh, dan besok kita harus recording di Inkigayo. Kenapa tengah malam kau malah streaming internet?” sang tetua dari super junior sudah mulai memberikan petuah kepada dongsaengnya.

“di New York saat ini siang hyung” jawaban singkat sang dongsaeng.

“aku tau kau tak bisa lepas darinya, tapi jangan sampai kau mengabaikan dirimu sendiri dongsaeng. Dia pasti tak akan suka kau berbuat begini.” Leeteuk berusaha merebut iPad yang sedang berada di tang donghae.

“kalau kau tak memberitahunya dia tak akan marah hyung.”

Belum 5 menit sejak Leeteuk memutuskan keluar dari kamar itu, iPhone donghae pun memperdengarkan lagu It Has To Be You yang menandakan ada sebuah panggilan masuk untuknya. Yang membuat Donghae heran nomor itu tidak diketahui pemiliknya. Belum lagi Donghae akan menyahut untuk orang yang entah dimana berada itu, sebuah suara sudah menginstrupsinya.

“memaksakan diri lagi sayang??”suara yang sangat dan teramat dikenalnya. Suara gadis manis yang sering ditunggunya itu terdengar.

“pasti Teuki hyung kan??” bukan menjawab pertanyaan Sunye dia malah memberikan pertanyaan lain. “sekarang sudah tengah malam di seoul, besok harus recording. Jadi sekarang istirahatlah. Ok!” dua orang itu seakan tidak tahu apa arti dari kalimat tanya, atau mungkin mereka memang tidak ingin tahu.

“baiklah, lain kali aku tidak akan memberi tahu Teuki hyung lagi” akhirnya dengan beberapa kata dari gadis itu saja Donghae mau menjalankan sesuatu yang sebenarnya sangat wajib untuknya, istirahat.

*————-*

If I can give up the whole world
At least there is still you for me to treasure
And you are here
That is the miracle of life

Maybe I can forget the whole world
But I won’t be willing to lose news about you
The mole on your palm
I always remember it is there

            SUPER JUNIOR DONGHAE DAN WONDER GIRLS SUNYE TAMPAK DI SEBUAH APARTEMEN

Sebuah artikel di website paling dipercaya seluruh masyarakat Korea Selatan memampangkan nama Donghae dan Sunye, ditambah kata yang pasti membuat orang orang diluar sana berfikiran negatif => TAMPAK DI SEBUAH APARTEMEN.

“Tolong jelaskan maksud ini Lee Donghae!!” dengan wajah yang sangat menyeramkan untuk dilihat dari seorang Angel Without Wings, Leeteuk memperlihatkan artikel itu dari iPad miliknya. Wajah sang leader saat itu sudah sangat merah padam, bukti bahwa ia sedang bertahan dengan kemarahannya yang sudah mencapai puncaknya.

Donghae hanya diam, tidak tau jawaban apa yang harus ia berikan. Yang ada pada artikel itu sebuah kenyataan, bukan hanya bualan para wartawan. Itu FAKTA. Dia memang pergi kesebuah apartemen di daerah Myeongdong dengan Sunye. Tapi apartement itu adalah milik teman Sunye, mereka kesana hanya untuk merayakan kepindahannya.  “jangan hanya diam Hae, bicaralah sesuatu. Mungkin kami akan bisa mengerti.” Eunhyuk menepuk pundak Donghae, mencoba memberi semangat kepada teman yang sudah diangganya saudara itu.

“memang apa yang harus kujelaskan hah? Semua itu memang benar. Sesekali aku juga ingin bebas, lagi pula itu hanyalah apatemen teman kami.” Donghae berbicara dengan sangat halus, tapi sarat dengan rasa penat tak terlukiskan.

“kebebasan bukanlah untuk orang orang seperti kita Hae, sepertinya kau harus lebih mengerti akan itu.” Leeteuk berbicara pelan, bahkan teramat pelan untuk didengar Donghae.

Wonder Girls Dorm~~~

“Onni, kenapa bisa sampai ketahuan seperti ini?” Sohee mendesak Sunye yang sedang berbaring di kasurnya.

“aku juga tidak tahu, tolonglah, aku sudah pusing dengan masalah ini. Jangan desak aku seperti ini.” Bukan dengan nada memohon, tapi dengan nada jengah Sunye mengucapkannya.

“disinilah letak nikmatnya hidup, kau beruntung sudah merasakannya. Jangan sia sia kan ini Min Sunye. Arti cinta sesungguhnya akan terasa, itu keajaiban hidup. Dan kau Sohee! Jangan ganggu dia, cepat keluar!” Yeny menarik Sohee keluar dari ruangan yang dihiasi wallpaper bunga matahari itu.

“tapi inikan kamarku juga onni.” Sohee tidak terima dirinya diusir bahkan dari kamarnya sendiri.

“ke-lu-ar!!”

*————-*

It’s not easy for us
We can’t help it
I’m afraid time will pass too quickly
Not enough time to see your clearly enough

I’m afraid time will pas too slowly
Always worried that I’ll lose you
Rather have white hair overnight
That way we’ll never part

            … menjauhlah dari donghae oppa, kau tidak pantas untuknya…

            … wanita macam apa kau? Membawa laki laki ke apartemen teman mu? …

            … wanita jalang …

 

            … kalian fikir ikan busuk itu pantas untuk matahari kami?…

            … seorang dewi seperti sunye harus miliki pendamping seperti dewa…

           

            Perang cacian, celaan, hinaan dan berbagai kata kata tak pantas lainnya bertebaran di dunia maya. Dunia dimana semua orang bertemu, bahkan untuk saling melemparkan kata kata menjijikkan. Sedangkan yang menjadi topik utama dari semua itu belum juga mengeluarkan suara. Kedua belah pihak masih ditahan ‘penjara’ masing masing. Bahkan sekedar bicara saja ‘sang sipir penjara’ tak mengizinkan. Mereka dikurung bagai tahanan rumah.

Barulah saat sudah lebih dari 2 bulan, setelah berita itu sedikit mereda, ‘hakim’ memutuskan agar mereka segera menampakkan diri. Memberikan keterangan yang pasti kepada mereka yang telah haus akan kejelasan berita mengejutkan itu. Dengan satu kalimat saja…

“KAMI MEMANG BERPACARAN”

Dengan sangat berani Donghae langsung menarik tubuh Sunye masuk kedalam pelukannya, disaksikan berpuluh pasang mata dan berpuluh kamera.

“ sekali lagi, tolonglah berjanji kau akan bersamaku sampai di kulit kita terukir kerutan kerutan usia. Berjanjilah!”

“aku berjanji atas namamu Lee Donghae. Aku berjanji! Aku berjajnji akan bersamamu sampai aku tidak punya kekuatan lagi untuk menyebut janji ini!” kali ini Sunye yang lebih merengkuh tubuh Donghae, memperdekat jarak mereka, menyampaikan isi hati masing-masing.

*————-*

  Cr : Ciidedektemok (@vii_viilau99)

4

[FF] Me, You and Her

Cast :

Moon Geunyoung

Yesung Super Junior

Yoona SNSD

P.S :

Aku / ku => Moon Geunyoung a.k.a Geunyoung

Kamu / dirimu / mu => kim Jongwoon a.k.a Yesung

Dia / Ia / nya => Im Yoona a.k.a Yoona

A/N : Annyeonghaseyo J Delvi imnida. Ini FF oneshoot YeMoon pertama yang bisa aku selesaikan dengan baik, walau hasilnya mungkin tak terlalu memuaskan. FF ini gaje? Hehe, saya kan juga gaje. Walau gak menang tapi aku harap juri nya bisa ngasih aku kritik dan saran. Habisnya setiap aku bikin ff gak ada yang kasih komen. Aku belum punya reader, soalnya baru mulai didunia perFFan. Kok aku malah curhat ya?? Yaudah deh, HAPPY READING 😀

-Geunyoung’s POV-

South korea, Cheonnan

“aku akan kuliah di Seoul” perkataanmu saat itu benar-benar hampir membuat jantungku berhenti.

“apa?? Seoul? Kau akan ke Seoul dan meninggalkan aku disini?” reaksiku atas ucapanmu.

“Oh, bukan. Maksudku bukan aku, tapi kita. Kita akan kuliah di Seoul.” Pernyataan yang lebih gila dari pada yang aku dengar sebelumnya.

“kau gila? Semua keluargaku disini, mereka juga tidak mungkin punya biaya untuk kuliah ku disana. Disini saja aku tidak kuliah.”

“hey, kau dan aku itu pintar. Dengan melampirkan berbagai sertifikat saja kita bisa diterima di Inha University. Dan aku sudah melakukannya. Biaya kuliah disana GRATIS!” kau menekankan suara pada kata gratis, memangnya aku akan tergoda ha?

“dari mana kau mendapatkan semua sertifikatku?” ucapku setengah kesal, dia tidak mencuri kan?

“ibumu sangat percaya padaku. Sudahlah jangan banyak tanya, besok kita berangkat” hampir saja kau pergi meninggalkanku di taman itu, untunglah reflek tanganku segera menarikmu.

“aku tidak mau!! Disana pasti akan banyak perempuan yang lebih menarik dari pada aku. Dan laki-laki mana yang akan menolak pesona gadis kota? Hanya laki-laki bodoh yang akan melakukannya. Pasti kau akan mencari yang lebih cantik disana. Tidak mau!” bersikeras dengan pendapatku.

Kau menoleh menatapku tepat di manik mata. Hah, kenapa matamu selalu bisa membuatku bergetar? “kau yang terbaik. Aku tak akan menemukan yang lebih baik. Dan laki-laki bodoh yang telah menolak pesona gadis kota itu adalah aku.” Berakhir dengan sebuah kecupan di keningku. Kalau sudah begini aku bisa apa?

*vii9_9vii*

South Korea, Seoul

Lagi-lagi mimpi itu yang datang dalam lelapku malam ini. Sudah sebulan terakhir. Sebulan terakhir sejak sifatmu mulai tak jelas. Sejak sifatmu sudah sangat berbeda. Seperti hari ini dan hari-hari sebelumnya. Aku kau suruh pulang sendiri dan pada akhirnya aku menyendiri di apartemen ini. Dan kau? Tak jelas kau berada dimana, dan sedang melakukan apa.  Yang mungkin aku ketahui kau pasti sedang bersama dia yang harus kau kencani.

Drrtt,,,,,

Getaran handphone yang terletak disisi kasur itu memaksaku untuk segera bangkit dari tempat nyaman ini. Sudah pukul 1 pagi. Siapa yang menelfon? Mungkinkah kau? Tapi untuk apa? Kau sendiri tahu kode apartemen ini.

“Geunyoung-ah, kau sudah tidur?”  ternyata benar suaramu yang terdengar dari ujung sana.

“emm, tadi sudah, tapi terbangun karena mimpi buruk. Ada apa? Kau belum pulang”  dan aku sedikit kecewa saat mendengar suara seorang wanita dari ponselmu.

“tolong tetaplah dikamar. Jangan keluar. Aku mohon” permohonan apa ini? Memangnya ada apa?

“ada apa?” pertanyaan singkat namun entah mengapa kau tidak bisa menjawab.

“hanya ikuti kata-kata ku” dan selanjutnya sambunganpun terputus secara sepihak.

“Jongwoon…” ah, bodohnya aku. Tak akan ada guna juga aku berteriak memanggilmu. Baiklah, aku akan mendengarkan kata-katamu. Karena selama ini aku tak pernah ingkar dari semua ucapanmu yang sudah berstatus sebagai tunanganku.

30 menit berikutnya terdengar bunyi pintu apartemen dibuka. Itu pasti dirimu Kim Jongwoon. Ingin sekali aku berlai kesana dan menyambutmu. Namun mengingat pesanmu tadi aku mengurungkan niat. Selain itu juga karena sebuah suara yang tak kukenal….

“oppa, ini dimana??” suara seorang wanita yang kurasa ia dalam keadaan mabuk. Jadi inikah alasanmu atas perintah tadi?

“apartemenku. Malam ini kau menginap disini saja. Aku benar-benar tak bisa mengantarmu pulang” ah, itu suaramu.

Percakapan singkat yang menurutku tak penting untuk ku ingat. Selanjutnya yang kudengar pintu kamarmu yang terletak tepat disamping ruangan tempatku berdiam terbuka.

“oppa mau kemana? Jangan tinggalkan aku” yang kubayangkan adalah wanita itu menahanmu disana.

“kau tidur disini. Aku aku akan tidur di mmpphhh…….” Demi apapun aku tidak bisa dan tidak akan mau membayangkan apa yang terjadi disana. Cukup aku mendengarkan semuanya.

“ Yoona-ah, apa yang kau lakukan” itu kata-kata terakhir yang kudengar sebelum aku memakai earphone dan memutar lagu dengan volume ekstrim dari iPod ku. Harusnya aku sudah mempersiapkan diri untuk keadaan semacam ini. Saat kau bukan hanya untukku lagi. Tapi sungguh, aku  benar-benar tidak bisa. Bahkan sekedar untuk mencoba.

*vii9_9vii*

6 a.m, Sunday

Tak terlelap sedikitpun sejak kedatanganmu –dan juga dia- tadi malam. Entah kenapa aku hanya bisa menangis dengan earphone terpasang, masih dengan volume tak wajar.

“Geunyoung-ah…” ternyata kau masih ingat akan aku yang masih berada di apartemen ini.

“jadi itu alasanmu? Dan dia yang akan berbagi denganku?” pertanyaan telak langsung dariku. Sepertinya dirimu cukup terkejut dengan itu.

“yah” dengan jawaban singkat kau melangkah kearahku. Sementara aku malah semakin menarik selimut dan bergelung didalamnya. Tampaknya aku kedinginan. Tapi sungguh, aku tidak. Aku benar-benar diambang ‘kepanasan’ku saat ini.

“volumenya terlalu keras, kau bisa tuli sayang” duduk dikasur milikku dan kau melepaskan earphone dari telingaku. Selanjutnya bibirmu mendarat dibibirku. Melumatnya dengan lembut. Tapi aku merespon sedikitpun tidak. Membiarkanmu mengambil hak yang kau sebut dengan Morning Kiss.

“kalau kau harus pulang malam hanya untuk menemaninya. Atau bahkan tak pulang untuk dia, dan menginap di hotel mana saja aku masih sanggup. Karena setidaknya aku tak akan tahu apa yang kalian perbuat. Tapi aku benar-benar tak bisa kalau mengetahui langsung apa yang kalian lakukan. Walaupun itu hanya akan ada dipendengaranku.” Kutumpahkan apa yang ingin kusampaikan kepadamu. Tak akan tahan lagi jika harus aku tahan sendiri.

“mengertilah aku. Dia adalah tanggung jawabku sayang” kau ikut merebahkan diri dan masuk dalam selimut bersamaku. Menatap mataku tepat di manik mata. Tolong, jangan kau tatap aku dengan itu. Karena kali ini aku tak ingin luluh karenamu.

“lalu aku? Sebulan ini aku selalu memimpikan hal yang sama. Kejadian lima tahun lalu saat kau mengajakku untuk kuliah disini. Saat kau berkata tak akan menemukan yang lain. Janji yang benar-benar kupercayai sebelum satu bulan ini.”

“aku tak melanggar janji itu. Sungguh. Kau tetap yang terbaik. Dan aku tak pernah menemukan yang lain. Yoona hadir karena sebuah alasan. Maafkan aku karena telah berubah.” Kau mengecup kedua mataku.

“kau tak berubah, demi apapun kau tak berubah. Hanya saja kebaradaanmu untukku sekarang benar benar berbeda” belum juga kering air mata tadi, tapi sekarang ia mengalir lagi.

Engkau tak memberikan jawaban. Malahan sebuah ciuman yang terasa asin karena tercampur air mata. Entah milik siapa, karena yang kuketahui kaupun menangis.

“mana dia?” yang kumaksud adalah Yoona. Perempuan yang mengharuskanku untuk berbagi dirimu yang awalnya milikku seorang.

“dia sudah kuantar pulang. Dia juga menitipkan salam dan permintaan maaf untukmu. Kau sudah sarapan sayang?” mengusap wajahku dengan tanganmu yang hangat. Aku benar-benar rindu dengan sentuhan ini.

“aku menerima salamnya. Permintaan maaf? Tak ada yang salah dalam masalah ini” ku pejamkan mata menikmati sentuhan ini. Benar-benar sudah lama sejak dia hadir kau tidak menyentuhku layaknya ini.

“sudah sarapan sayang?” pertanyaan yang sama dengan yang kuabaikan.

“belum dan tidak akan. Aku hanya ingin tidur seharian ini.”

Tanpa berkata apa-apa kau malah mengangkat tubuhku.  Setelahnya aku sudah duduk di kursi meja makan. Baiklah, ini sedikit menaikkan mood ku.

“kau harus sarapan. Dan aku akan memasak untukmu hari ini Nona Moon Geunyoung” sebuah pemikiran gila terlintas di otakku ’ Ada baiknya juga dia datang diantara aku dan dirimu’. Karena sebelumnya kau tak pernah mau memasak untukku.

Ting tong….

Aissh, baru kali ini rasanya aku ingin sekali mengutuk sebuah benda mati semacam bel yang telah mengganggu kesenanganku. Baru saja kau akan memegang pisau, tapi benda itu harus berbunyi mengganggu.

“biar aku yang membuka sayang.” Aku segera melangkah ke ruang depan untuk melihat siapa yang bertamu pagi-pagi dan mengganggu kegiatan langka aku dan dirimu. Seorang perempuan tampak dari layar. Siapa dia?

“sepertinya kau harus memasak untuk tiga orang. Ada tamu” aku beteriak bermaksud agar kau mendengarnya. Dan itu berhasil.

“annyeonghaseyo onni” saat membuka pintu tamu itu langsung membungkuk dalam. Kenapa dia? Dan sebenarnya dia siapa? Yang masuk ke otakku saat melihat wajahnya adalah dia cantik. Oh, bukan tapi dia sangat cantik.

“silahkan masuk. Aku harus kebelakang sebentar” kupersilahkan dia masuk. Walaupun tak mengenalnya, tapi sepertinya dia bukan orang jahat. Dan aku harus kebelakang untuk mengganti piyama ini dengan pakaian yang lebih layak untuk menyambut seorang tamu.

“siapa?” dengan tomat utuh di tangan kananmu kau malah melesat keluar dan meninggalkan dapur. Dan jangan lupakan sebuah kecupan di pipi yang berhasil mencegatku disekat antara ruang tamu dan dapur ini.

“Annyeong oppa” dia menyapamu, dan reaksi yang kau berikan? Malah tampak seperti orang yang telah tertangkap melakukan dosa.

“Yoona, apa yang kau lakukan disini?” tunggu? Apa kau bilang? Kau menyebutnya siapa? Yoona??

“Yoona?” berbalik kearah tamu yang kau sebut sebagai Yoona tadi. Jadi diakah Yoona itu?

“Mianhamnida onni. Jeongmal mianhamnida” otakku blank. Suaranya terdengar. apa yang dilakukannya aku sadar. Melihat dia yang bersimpuh di kakiku sambil menangis. Tapi tanggapanku? Tak ada. Hanya air mata yang mengalir sebagai jawaban tindakannya yang malah menangis semakin keras.

*vii9_9vii*

07.30 a.m

Oh tuhan, suasana macam apa ini? Hening, suram. Duduk di meja makan dengan tiga orang . Aku, kau dan DIA. Harusnya hanya ada aku dan kau. Tapi kenapa dia…

“Mianhamnida onni” oh ayolah. Sudah berapa kali dia mengatakan hal yang sama. Aku saja sudah bosan mendengarnya.

“kita bahas ini nanti. Sarapan dulu” kau bicara dengan nada kelewat tegas. Lagi aku akan bertanya. Suasana macam apa ini? Ini terlalu dingin, dan aku benci. Mungkin ada baiknya aku mendengarkan titahmu agar suasana ini cepat berganti. Demi apapun aku tidak suka melihat wajah dinginmu itu sayang.

Sepuluh menit tersuram yang aku alami selama berada di apartemen ini telah terlewat. Kita –aku, kau dan dia- sudah ada di ruang depan. kau memilih duduk diantara kami. Inikah rasanya berbagi? Yang dulunya hanya aku, tapi sekarang sudah ada perempuan lain disampingmu.

“Geunyoung, ini Im Yoona. Dia adalah anak dari direktur kita” aku melirik kearahnya. Dia hanya tersenyum canggung dan selanjutnya menunduk dalam dengan sebuah kalimat terdengar “sekaligus calon istrimu oppa”

“APA?? Kita tidak pernah membahas tentang ini Kim Jongwoon!” baiklah, maaf bila perkataanku terlalu kasar kepadamu. Tapi apa maksud dari CALON ISTRI? “pernikahan kita 1 bulan lagi!” teriakku kasar kearahmu.

“pernikahan kami juga dilaksanakan 1 bulan lagi” sergah dia cepat. Apa lagi ini?

“Yoona, sabaiknya kau pulang sekarang. Aku harus bicara dengan Geunyoung!” perintah tegasmu yang kalau diperuntukkan bagiku tak mungkin bisa kulanggar. Tapi dia? Dia malah segara bergerak cepat kearahku dan sekali lagi dia bersimpuh di kakiku. Permohonan lagi-lagi keluar dari kata-katanya.

“aku mohon onni. Biarkan kami menikah. Aku benar-benar tak bisa hidup tanpa Yesung oppa. Aku mohon, sudilah untuk berbagi denganku onni”

Memangnya apa yang telah kau lakukan terhadapnya sampai ia tak bisa hidup tanpamu. Kau itu YESUNGKU. Aku tak pernah berfikir berbagi yang dulunya kumaklumi itu sampai harus berbagi status sebagai istrimu.

“oppa lepaskan. Biarakan onni mengabulkan permohonanku. Lepaskan” kau menyeretnya keluar dari hunian kita ini. Hunian kita, hanya kau dan aku tanpa dia.

*vii9_9vii*

08.00 p.m

Seharian aku mendiamkanmu. Apapun yang keluar dari bibirmu kulewatkan bak angin lalu. Bahkan sentuhan mu yang biasanya selalu berhasil membujukku tak juga mempan. Apapun, apapun yang kau lakukan sayang, kali ini kau benar-benar tak bisa menggubrisku.

“Sayang, kumohon katakan sesuatu. Jangan seperti ini” lagi kau membujukku. Aku yang sekarang tidur membelakangimu hanya diam tak bergeming walaupun rengkuhan hangatmu membelengguku. Sebenarnya aku tak sanggup, sungguh. Melihatmu memohon sedari tadi cukup membuatku teriris. Dan pada akhirnya…

“aku salah tentang ‘menginap di hotel mana saja’ itu. Mana mungkin aku merelakanmu pergi bersamanya dibelakangku? Jongwoon, sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah dulunya kau hanya dititipkan oleh direktur akan dirinya?” pertanyaanku pada dirimu.

“berbaliklah sayang” membisikkan kata itu tepat di telingaku. Aku berbalik menatap dirimu. Oh, aku sungguh mencintai sosokmu Kim Jongwoon. Tapi kenapa ada pengkhianatan ini dari dirimu?

“Maaf…” satu kata yang baru kau ucapkan tapi cairan bening itu sudah mengalir dari mata indahmu. Sebesar apakah kesalahan yang kau perbuat?

“aku…” lagi kau tak dapat melanjutkannya.

“berterus terang akan lebih memperbaiki keadaan sayang” aku berkata lembut. Padahal kenyataannya aku belum siap akan sesuatu yang akan kau ceritakan.

“aku telah merenggutnya” perkataanmu singkat. Namun sangat bisa kumengerti. Mengerti akan maksud dari kata ‘merenggut’ yang kau ucapkan. Untuk sesaat aku merasa sangat marah. Sangat ingin memakimu. Tapi tatapan penyesalan itu langsung meluluhkan hatiku. Mendinginkan otakku.

“bahkan kau melakukan hal yang belum pernah kau lakukan padaku. Hah, ternyata aku bukan lagi yang pertama. Kalau memang begitu nikahilah dia sayang” terlalu bodohkah diriku? Ya, demi kau aku rela menjadi perempuan terbodoh yang ada didunia, perempuan yang rela membagi cinta.

“Geunyoung. Jangan bercanda. Mana mungkin aku menikah dengannya? Aku hanya akan menikah denganmu.” Lalu sebuah ciuman singgah dibibirku.

“demi apapun Kim Jongwoon. Nikahilah dia. Aku juga seorang perempuan,  aku tau bagaimana posisinya. Bagaimana mungkin setelah melakukannya kau tak… kau tak…” tak sanggup aku melanjutkannya.  Lagi-lagi hanya tangisan yang kusuguhkan kepadamu. kenapa aku begitu lemah?

Membungkam isakan tangisku dengan ciumanmu. Tak sesederhana yang kukatakan tadi, ini benar-benar menyakitkan. Kau tak akan pernah tahu rasanya. Begitu juga dia.

“sentuh aku” entah apa yang melintas di otakku tapi aku benar-benar ingin kau menyentuhku lebih dari yang biasa kau lakukan.

“apa? Tidak! Aku tidak akan melakukannya” kau menyanggah cepat.

“kenapa tidak? Kau mencintaiku kan?” aku membentakmu. Kedua kalinya dihari ini.

“aku mencintaimu. Sangat, sangat mencintaimu. Tapi tak seperti ini. Aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah. Tidak akan pernah” kau balik membentak dan pertama kalinya kau melakukan hal itu. Cukup membuatku terpaku.

“sentuh aku seperti kau menyentuhnya!” tak mau kalah dengan keputusanmu itu. Tapi yang kudapat malah kau yang segera menjauh dariku dan seperti ingin beranjak dari tempat ini.

“mau kemana?” aku menahan lenganmu, tak ingin kau beranjak dari sini.

“kalau kau tetap memaksa aku akan pindah kekamarku” hey, kenapa malah dirimu yang marah kepadaku. Disini yag memiliki kesalahan fatal itu dirimu.

“tetaplah disini, kumohon.” Dan pada akhirnya aku jugalah yang memohon kepadamu.

Berbalik lagi kearahku, kau ikut merebahkan diri tepat disampingku. “tidurlah, kau terlalu lelah hari ini sayang.” Tak seperti biasanya, kali ini hanya kecupan di puncak kepala yang kudapat. Permintaan bodoh ku tadi sepertinya benar-benar menghancurkan mood mu.

*vii9_9vii*

One week later

Satu minggu. Waktu yang sangat cepat –setidaknya menurutku- untuk menyelesaikan dan mencari titik terang masalah ini. Saat kau, aku dan juga dia harus duduk satu ruangan dan membicarakan semuanya. Termasuk rencana pernikahan kita. Rencana pernikahan KAU, AKU dan juga DIA. Kita –aku dan kau- harus merubah semua yang telah kita rencanakan sebelumnya. SEMUA. Benar-benar SEMUANYA yang harus kita rubah. Bahkan tempat hunian kitapun harus berubah. Yang dahulunya apartemen KITA semenjak kuliah menjadi sebuah rumah mewah. Ayah Yoona lah yang memberikannya. Ayahnya, direktur di perusahaan tempat kita bekerja.

“Oppa kau mau warna apa untuk kamar kita? Tapi jangan merah ya, warna itu terlalu seram menurutku. Bagaimana kalau biru?” yah, dia sedang bergelayut manja pada lenganmu. Padahal aku berada disebelah kananmu –dan dia dikiri-. Hanya diam tak menanggapi, toh aku harus membiasakan diri dengan sifat manjanya terhadapmu.

“Yoona, bisa tidak tanganmu tidak usah bergelayut seperti ini?” kau berusaha melepaskan diri dari tangannya.

“Orang hamil harus dimanja Jongwoon” aku berkata manis, padahal mataku menatap sinis.

“Mianhe onni” barulah dia melepaskan dirimu. Aneh, padahal jelas-jelas aku mengizinkan. Mengizinkan? Ya, karena apapun yang akan dia lakukan terhadap dirimu harus mendapat izin dariku. Karena kau adalah MILIKKU, walau tak sepenuhnya setidaknya aku lebih dulu.

“berhenti memanggilku dengan nama Jongwoon sayang” kau menatap kearahku dan malah mengacuhkan Yoona disana.

“Lalu apa? Sekarang kau bukan sepenuhnya untukku, kalaupun harus kupanggil dengan sebutan ‘sayang’ berarti Yoona juga. Dan maaf, untuk hal itu aku sedikit egois. Hanya aku yang boleh menyebutmu dengan panggilan itu” aku menegaskan kata-kataku. Aku posesif? Maaf kalau begitu, tapi aku tak bisa jika harus berbagi semuanya.

”baiklah, tapi jangan panggil aku Jongwoon”

“aku akan tetap memanggilmu Jongwoon, aku tak terbiasa dengan nama Yesung. Sudah selesaikan melihat-lihat rumahnya?  Aku ingin pulang Jongwoon , aku lelah, ingin segera tidur.” tanpa memperdulikan apa reaksimu dan juga dia aku segera melangkah keluar dari rumah yang menurutku terlalu megah. “Aku ingin cepat pulang!!” sedikit berteriak agar suaraku terdengar kedalam. Berharap kau segera sadar dan mengantarku pulang.

*vii9_9vii*

Wedding day

Pernikahan ini sangat indah. Gereja yang begitu megah, dengan hiasan serba putih yang melambangkan betapa sucinya sebuah pernikahan. Gaun yang kelewat mewah, aku merasa seakan menjadi seorang putri saat memakainya. Seorang pengantin pria yang terlalu gagah, menanti di depan altar dengan tuxedo yang begitu pas di tubuhnya. Dan jangan lupakan gedung yang akan menjadi tempat resepsi nanti. Ah, aku bahkan tak bisa menggambarkannya. Sebuah pernikahan yang akan benar-benar menjadi sangat indah jika hanya aku yang menjadi pengantin wanitanya. Tapi sayang, itu hanyalah khayalan. Karena kenyataannya akan ada dua pengantin wanita disini. Ya, AKU dan DIA.

Kami, ah bukan kami. Tapi AKU dan DIA melangkah ke depan altar beriringan dengan digandeng ayah masing-masing. Sementara kau berdiri disana dengan senyum antara bahagia dan canggung.

“Tolong jaga anakku Kim Jongwoon. Jangan kau sakiti dia lagi” ayahku memberikan titah kepadamu sambil menyerahkan tanganku. “percayakan dia padaku” jawabmu tegas dan menyambut hangat jemariku. Setelahnya kau menoleh kekiri dan disanalah dia dan ayahnya berdiri.

“bahagiakanlah anakku” direktur –yang tak lain adalah ayahnya- melakukan hal yang sama begitupun dengan dirimu.

Pengucapan janji pernikahan dimulai. Aku mengucapkannya terlebih dahulu, disusul dia dan terakhir dirimu. Agak sedikit berbeda dengan janji pernikahan biasanya, karena pada kasus ini ada dua pengantin wanita yang harus kau beri janji.

Aku tak bisa menahan tangis. Tangis antara bahagia dan sedikit terluka saat kau menyematkan cincin dijariku dan juga dijarinya. Bahagia karena impianku untuk menikah denganmu tersampaikan, dan sedikit terluka karena bukan hanya aku. Dan prosesi sakral ini berakhir dengan ciuman yang sampai dibibirku dan juga dia.

*vii9_9vii*

Night, 10.00 p.m

Lagi, kita melangkah masuk kerumah megah ini dan berakhir dikamar super luas yang dengan bed super besar karena akan ditempati oleh tiga orang nantinya. Yah, ini sekedar untuk keadilan. Aku dan dia –akan selalu begini karena aku tak mau menyebut sebagai ‘kami’-  duduk di setiap sisi bed ini. Betapa lelahnya hari ini, karena yang harus dilayani bukan hanya tamuku dan dirimu tapi juga tamu dia. Beberapa dari mereka bahkan memuji –atau malah mengejek- kita tentang pernikahan yang sedikit ‘fantastis’ ini.

“yeobo, kau tidak terlalu lelah kan?” kau memelukku mesra layaknya hanya ada kita berdua di ruangan ini. Sayang, kau tidak terlalu bodohkan sampai melupakan satu orang lain diruangan ini? Aku melirik kearahnya yang kini malah seperti orang salah tingkah.

“Jongwoon, bukan hanya kita yang ada disini” aku memukul kepalamu –tapi dengan lembut- dan segera melepaskan tangan yang membelenggu pinggangku.

“emmm, Yoona. Bisakah malam ini kami hanya tidur berdua? Kalau kau mau menggunakan kamar ini tidak apa-apa. Kami bisa pindah ke kamar tamu” permintaan apa itu? Dia istrimu juga, kau gila ha?

“bagaimana mungkin. Dia tetaplah istrimu. Tidak usah Yoona” dia yang awalnya sudah akan beranjak terhenti mendengar kata-kataku.

“tapi kan…” dan instrupsimu terganggu karena kalimat yang keluar dari bibirnya.

“Tidak apa-apa onni. Aku akan pindah. Hanya malam ini kan? Hehe” dia segera melanjutkan langkahnya keluar.

*vii9_9vii*

-Author’s POV-

Belum juga Yoona menutup pintu kamar itu sepenuhnya, tapi Yesung sudah ‘menyerang’ Geunyoung dengan ciumannya. Dan Yoona pun semakin mempercepat langkahnya ke kamar tamu. Disana ia segera mengambil iPod yang sengaja disediakannya. “Untung aku sudah meminta peredam suara untuk kamar itu. Hah, jangan bayangkan Yoona, jangan bayangkan” seperti berusaha untuk menghipnotis dirinya sendiri Yoona mengulang kalimat terakhir yang dia ucapkan berkali kali.

-THE END-