Etika itu tergantung dimana bersekolah??

Image

Menempuh pendidikan di sekolah elit atau bergengsi akan membuat anda terlihat lebih beretika dari pada siswa yang bersekolah di sekolah biasa atau bahkan terkenal dengan murid urakan? Coba pikir kembali..

Saya Delvi Yerisca, gadis 17 tahun yang memulai pendidikannya di sebuah sekolah dasar yang sangat biasa, bahkan mungkin tak pernah dianggap ada sudah merasakan apa rasanya bergaul dengan para anak orang kaya.

Saat sekolah dasar saya memiliki teman yang mungkin orang mengira mereka urakan, nakal, dan kampungan. Saya yang baru berumur beberapa tahunpun pasti akan terbawa arus, jujur, bahkan saya termasuk yang parah diantara mereka.

Kami tidak pernah membolos. Itu sebuah hal yang sangat tabu untuk kami. Tapi melakukan hal-hal nakal lain? Tentu, itu bagian dari gaya kami. Dengan tubuh yang masih kecil kami sudah berani menempuh sebuah bukit yang terkenal dengan hutan yang menyeramkan. Orang tua saya (karena sebagian teman saya sudah terlalu biasa) selalu melarang bahkan hanya untuk berfikir kesana. Tapi apa? Yah, kami inilah para murid sekolah dasar nakal yang tak mau dengar apa nasihat orang tua.

Bertengkar dengan sekolah lain? Sudah terlalu biasa, bahkan disaat yang lain mundur karena kami kekurangan massa, saya malah maju.

Mencuri? Oh, ini sangat memalukan sebenarnya, tapi mencuri buah jambu saat pulang sekolah (yang kami tempuh dengan jalan kaki, karena hey! Kami cuma anak kampung yang sudah terbiasa dengan teriknya matahari siang) adalah rutinitas kami. Duduk 10 menit dibawah pohon jambu alih-alih berteduh, mengintip sang pemilik pohon, dan dengan sigap memanjat jika sang pemilik tidak terlihat itu adalah hal yang kami lakukan tiap hari. Jika ketahuan tinggal ambil langkah seribu dan ulangi esok kembali.

Lalu kehidupan sekolah saya berganti 180° saat SMP. Alhamdulillah, saya diterima disalah satu SMP favorit di kota Padang, tanpa seorangpun teman. Benar-benar tanpa seorangpun teman. Tahun pertama tak berjalan begitu mulus. Saya tipe orang yang sangat susah untuk bersosialisasi dengan orang baru. Apalagi mereka –teman SMP- dari latar belakang yang jauh berbeda dari saya. Anak pejabat? Ada. Anak PNS? Banyak. Yang bermobil mengkilat? Jangan ditanya, setiap pagi pasti ada mobil yang keluar masuk gang SMP saya -untuk mengantarkan anaknya tentu saja-.

Bergaul sama orang kaya itu susah. Pengalaman saya dengan mereka jauh berbeda. Mereka dengan sekolah bagus dan bahasa Indonesia, saya dengan sekolah pinggiran dengan bahasa daerah (yang sedikit kasar). Benar-benar sulit untuk melakukan penyesuaian.

Tapi itu cukup untuk tahun pertama. Tahun kedua penghuni kelas yang sama dengan saya lebih ramah dan lebih bersahabat. Saya mulai ikut-ikutan gaya mereka. Yang biasanya tidak pernah kenal apa itu café dan restoran jadi keranjingan kesana. Well, walau benar-benar harus hemat disekolah mengingat uang saya tak sebanyak mereka .Berapa banyak uang yang akan diharapkan dari anak seorang buruh dan guru honorer yang hanya dibayar Rp 300.000,00 sebulannya? Tapi lagi-lagi karena ikut-ikutanlah saya memilih untuk makan mi instant rebus setiap hari disekolah untuk hemat dan bisa ikut dengan mereka ke café atau semacamnya.

Kejadian ini berlanjut ke SMA, karena Alhamdulillah lagi-lagi saya bisa masuk sekolah favorit. Tapi ini membuat saya lupa sebenarnya saya siapa? Lupa dengan teman-teman SD saya.

Dan tahukah kalian? Di sekolah favorit kota saya ada anggapan kalau siswa SMK itu urakan, tak tau aturan dan kampungan. Tak semua SMK, ada beberapa SMK (yang tak mungkin saya sebutkan). Dan inilah kesalahan saya. Saat sebagian teman-teman SD saya malah di terima di SMK-SMK itu. Jujur, saya pernah ikut memandang mereka dengan berbagai pandangan negative.

Hey! Tapi itu bukan pendapat tanpa alasan, karena saya lihat sendiri beberapa dari mereka memang benar-benar tak sejalan dengan prinsip saya. Ada beberapa hal yang bagi siswa disini sangat tabu, dan beberapa dari mereka ‘dikabarkan’ sudah melakukannya. Dan itu berjalan begitu saja, saya bahkan bertekad tak akan pernah berhubungan lagi dengan mereka.

Sampai kemarin malam mata saya terbuka.

Well, saya memang tidak pernah benar benar dekat dengan para anak orang kaya (ini lebih ke kaum pria) itu. Tapi satu kejadian benar-benar membuat saya berfikir kalau mereka semua sama.

Hari itu setelah acara buka bersama dengan teman teman SMP kami memilki sedikit acara. Yah bisa dibilang duduk duduk dan ngobrol lepas di sebuah tempat yang cukup jauh dari rumah saya dan tak ada kendaraan umum disana.

Pukul 10 malam. Para teman perempuan sudah cemas dan ingin pulang. Kebanyakan dari mereka punya rumah yang searah sehingga tinggal ‘nebeng’ dengan satu orang yang kebetulan mengendarai mobil. Kalaupun tak searah mereka punya sang kekasih yang akan bertanggung jawab masalah transportasi mereka.

Tapi tidak dengan saya. Rumah tak searah (atau lebih tepatnya beda arah sendiri) dan tak ada sang kekasih (karena saya memang tak punya). Para teman perempuan saya tentu panik, mereka tak mau kalau saya harus naik kendaraan umum (saya meminta ‘nebeng’ dan diturunkan di tempat yang ada kendaraan umum). Sementara para pria disana? Mereka seakan tak peduli. Sampai para teman lain yang bicara pada mereka, dan apa yang didapat? Hanya kata tidak. Saya termasuk yang punya harga diri tinggi, disaat sudah ditolak tentu saya bilang saya tidak butuh.

Tapi ada hal yang sampai sekarang mengganjal otak saya? Ini sudah terjadi berkali-kali. Bukan hanya sekali. Setiap saya yang meminta pertolongan pasti mereka menolak (dalam kasus ini bukan hanya para lelaki teman SMP, bahkan teman sekelas saya saat SMA pun ada yang seperti ini). Salah saya dimana? Karena sejauh ini saya merasa tidak pernah punya masalah dengan mereka. Hey! Saya hanya murid tak eksis yang selalu ada dibarisan belakang. Untuk apa saya mencari masalah dengan para populer macam mereka?

Saya tak pintar? Entahlah, karena saya juga tak mau mengatai diri saya sendiri bodoh.

saya tak kaya? Tentu, sekolahpun juga karena beasiswa.

Saya tak cantik? Atau mungkin terlalu jelek untuk sekedar duduk dikendaraan mereka? Well, ini kesimpulan yang selalu saya ambil.

Dan tadi malam saat teman-teman SD saya (hanya yang lelaki) berkunjung kerumah untuk mengajak berbuka bersama dan saya memberi alasan, denga apa saya akan pulang? Tak mungkin harus mencari angkutan umum malam-malam. Mereka dengan tegas menjawab “Pasti kami antar lagi. Terlalu tidak punya otak kami kalau membiarkan teman perempuan kami pulang sendiri malam-malam.”

Itulah teman teman SD yang pernah saya pandang negative. Ternyata mereka lebih punya etika dari pada sang anak orang kaya yang sekolah di sekolah favorit.

Mungkin memang pergaulan mereka sedikit tidak benar, tapi apakah para anak orang kaya itu punya pergaulan yang benar-benar bersih? Siapa yang bisa menjamin??

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s